Artikel

Opini


Kunci Berdamai dengan Korona

Virus korona terus bermutasi untuk pertahankan hidupnya, sementara manusia juga harus bertahan hidup dengan sistem imunnya yang sangat supercanggih. TI jsalah satu tulang punggung penanggulangan Covid-19.   Sudah lebih dari tiga bulan kita bergelut seru dengan pandemi supervirus Covid-19. Kurva infeksi dan kematian belum juga terlihat puncaknya. Makin luas sektor kehidupan kita yang kena dampak buruk. Kita makin dipaksa untuk bertahan sampai suatu saat nanti ditemukan vaksin dan obat penangkalnya. Kita dipaksa makin hari bisa menerima kehadiran virus ini sebagai suatu kenyataan meski sangat membahayakan. Inilah ”tatanan” dunia baru gara-gara Covid-19. Bidang kesehatan, ekonomi, pergaulan sosial, proses politik, budaya kerja, semua berubah dan memformat ulang aturan mainnya. Format baru itu bisa jadi akan jangka panjang, bahkan permanen. Sebab, diperkirakan, supervirus ini tak akan bisa musnah sama sekali. Kemampuannya menyebar, bermutasi, dan beradaptasi dengan inang barunya sangat gesit.

Terobosan dari Pemetaan Mutasi Covid-19

SUPERVIRUS covid-19 makin jelas sosoknya. Menristek-Dikti Bambang Brodjonegoro mengumumkan tipe virus korona penyebab wabah covid-19 yang beredar di Indonesia ternyata berbeda dengan tiga tipe lainnya yang beredar di dunia. Kesimpulan itu merupakan hasil analisis Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID), lembaga kerja sama pemerintah Jerman dengan LSM untuk mempelajari data genetika virus. GISAID menganalisis tiga urutan genom yang dikirim dari Indonesia oleh Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman. Menristek menjelaskan hal itu dalam rapat kerja gabungan Komisi VI,VII dan IX DPR secara virtual, Selasa (5/5) lalu. Untuk pemahaman awam, genom (genome) adalah keseluruhan informasi genetik (berupa asam nukleat) yang dimiliki satu sel atau organisme. Inilah pertama kalinya total urutan genom SARS-Cov-2 dari isolat di Indonesia yang panjangnya 29 ribu basa didaftarkan ke GISAID.

Harapan dari Plasma Darah

Metode terapi plasma darah sangat layak untuk dipertimbangkan sebagai salah satu solusi sementara mengingat potensi berbagai risiko sebagaimana disebut di atas sambil menunggu ditemukannya vaksin dan obat untuk Covid-19. Supervirus Covid-19 di Indonesia memakan kian banyak korban dan diperkirakan belum sampai ke puncaknya. Kabar baik, di tengah kesulitan ini muncul sinar di ujung lorong. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman segera memulai pengobatan pasien Covid-19 dengan menggunakan plasma darah dari pasien yang sudah dinyatakan sembuh. Metode ini bisa disebut plasma pemulihan. Senin (20/4/2020), Kepala LBM Eijkman Amin Subandrio menyatakan, lembaganya dengan dukungan Badan POM dan Kementerian Kesehatan siap menerapkan pengobatan metode plasma pemulihan ini beberapa pekan mendatang. Selasa (28/4), Kompas memberitakan, PT Biopharma dan RSPAD Gatot Soebroto bergabung dalam inovasi gerak cepat ini.

Pengendalian Pandemi Vs Kebebasan Sipil

PERANG melawan pandemi covid-1 9 makin berkobar. Presiden Joko Widodo optimistis akhir tahun pandemi ini tuntas. Setelah itu, Jokowi memprediksi wisata (utamanya) akan booming. Tentu saja, optimisme memang harus terus dijaga. Agar optimisme itu jadi kenyataan, selain terus berdoa, butuh ikhtiar yang lebih tangkas dan terukur tingkat keberhasilannya. Hingga saat ini, gerak pemerintah masih belum bisa mengimbangi kecepatan penyebaran virus, yang pernah di istilahkan Gubernur Negara Bagian New York, seperti kereta peluru. Setelah meremehkan di awal pandemi, pemerintah kini menghadapi dilema. Apakah memenuhi saran pakar medis agar bertindak cepat untuk membatasi pergerakan sipil secara ketat dan tegas atau lebih mendengar saran pakar ekonomi-sosial yang menginginkan jangan ada pembatasan yang terlalu ketat agar ekonomi tidak drop dan menghindari gejolak sosial. Gubernur DKI Anies Baswedan langsung bergerak cepat mengajukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hanya sehari setelah Peraturan Menteri Kesehatan resmi dikeluarkan.

Saat Korona Belokkan Imunitas Jadi Senjata Makan Tuan

Untuk menghindari kefatalan, selain mengandalkan vaksin yang sampai sekarang masih dalam proses percepatan riset, sangat penting upaya untuk menjaga dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Mengapa virus korona jenis baru (novel coronavirus) ini bisa sangat mematikan? Bagaimana virus bernama resmi Covid-19 ini menyerang tubuh dan mengapa bisa menyebabkan korban meninggal dalam waktu sangat cepat, 4-7 hari? Padahal, pada pasien HIV/AIDS umumnya perlu waktu bertahun-tahun menuju kefatalan. Kalau HIV/AIDS ibarat perang gerilya, Covid-19 menghancurkan dalam perang kilat (blitzkrieg). Gambaran kerusakan itu bisa dilihat dari sebuah video yang disebar di medsos. Dokter Keith Mortman, Kepala Bedah Toraks RS Universitas George, Washington, menunjukkan permodelan 3D untuk memperlihatkan betapa cepatnya Covid-19 menyerang paru-paru.